Sejarah kaos dan Printer kaos
| 26/01/2012 | Posted by admin under Artikel, Info Digital, Info Printer, Info teknologi, Teknologi peralatan |
Kaos atau ada juga yang menyebutnya T-Shirt adalah kemeja santai dengan desain bentuk ada yang berkerah kancing, ada yang berleher bulat, dan biasanya dengan lengan pendek. Ada juga kaos yang desain bentuknya kombinasi atau sesuai dengan selera desainernya. Kaos terbuat dari bahan yang ringan dan nyaman di kulit tubuh pemakainya, terbuat dari bahan yang disebut katun, combet, hijet, tc dan lainnya yang nyaman digunakan. Teksture permukaan bahan kaos tidak se-halus pakaian formal atau se-kasar pakaian kerja lapangan, biasanya ada motif garis atau lubang yang memang sudah dibuat sedemikian rupa oleh pabrik textile.
Yang jelas kaos termasuk pakaian yang melindungi tubuh dari luar, nyaman dipakai dan menimbulkan kesan akrab – santai bagi yang memakainya. Aktifitas santai maupun aktifitas berat kaos menjadi pakaian yang sangat sesuai untuk tubuh manusia, ketika panas mampu menyerap keringat dan ketika dingin mampu menahan hangat tubuh agar pengguna merasa nyaman.
Kaos awal mulanya digunakan sebagai pakaian dalam selama abad 19, kemudian mulai dipopulerkan pertama kali pada tahun 1868 oleh Serikat Pekerja di Utica, New York, United States (nara sumber: Wikipedia). Saat itu banyak digunakan oleh buruh pelabuhan, penambang mineral, dan para pekerja yang berada di lingkungan panas. Kemudian semakin populer setelah para Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan kaos selama perang Spanyol-Amerika.
Setelah perang dunia II, kaos digunakan oleh para veteran sebagai pakaian kasual, dengan celana panjang dan kaos sebagai pakaian yang nyaman digunakan, kemudian sekitar tahun 1951 semakin populer ketika aktor Marlon Brando menggunakan kaos dalam film “A Streetcar Named Desire”.
Sekitar tahun 1960-an kaos sering digunakan untuk menyampaikan pesan iklan, protes, kesenian dan juga sebagai souvenir. Sedangkan kaos warna putih masuk mode fashion sekitar tahun 1980 an ketika aktor Don Johnson menggunakannya dengan setelan Armani di Miami Vice.
Dahulu kaos yang hanya sebagai pakaian dalam, kini kaos menjadi pakaian yang serba-guna, selain itu kata-kata, gambar, photo atau kombinasi – yang tercetak pada kaos menjadi media ekspresi diri dan iklan.
Untuk mencetak kata-kata, gambar atau photo ke media kaos umumnya menggunakan teknik sablon atau cetak saring. Cetak sablon hasilnya unik, terasa timbul jika diraba dengan jari, dan warna yang solid (vektor), proses cetaknya membutuhkan waktu yang lama dan harus dalam jumlah banyak, produksi cetak gambar untuk satu kaos akan menjadi sangat mahal (biaya pembuatan film, screen sablon, serta jumlah tinta yang ideal untuk kerja cetak), akan menjadi murah jika produksi banyak, pengerjaan setiap warna harus tepat – presisi, geser sedikit saja akan menghasilkan gambar yang buram.
Seiring perkembangan waktu, penemuan satu teknologi menghantar pekerjaan mencetak ke kaos jadi lebih mudah dan praktis. Teknologi tersebut ialah tinta textile yang sesuai untuk printer (alat cetak digital), Hadirnya tinta textile mendorong para modifikator printer biasa menjadi printer kaos umumnya dikenal dengan teknologi direct to garment, teknik mencetak ke kaos ini membuat kerja mencetak kaos- tshirt menjadi mudah, praktis dan murah. Selain itu resolusi gambar yang dihasilkan semakin tajam, jika presisi mampu mencetak font 3 Arial dengan jelas di atas media kaos. Printer kaos mulai dikembangkan sekitar tahun 2003 di Amerika, kemudian 2006 China, Korea dan tahun 2009 mulai dikenal di Indonesia. Mencetak kaos meggunakan printer kaos semudah mencetak kertas biasa di printer, tanpa film, tanpa screen, tanpa tinta minimal, dan cetak satu pun boleh.
Kehandalan printer kaos membuat pemakai atau penghobi tshirt menjadi semakin gaya, kaos menjadi media ekspresi diri yang kreatif.



